Kamis, 09 Juli 2015

[070] Al Ma'aarij Ayat 002

««•»»
Surah Al Ma'aarij 2

لِلْكَافِرِينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ
««•»»
lilkaafiriina laysa lahu daafi'un
««•»»
Orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya,
««•»»
—which none can avert from the faithless—
[1]
 [1] Or ‘bound to befall the faithless—which none can avert—from Allah…’
««•»»

Diriwayatkan bahwa An-Nadar bin Haris, seorang musyrik telah memperolok-olok Nabi Muhammad SAW, agar Allah SWT. segera menimpakan azab kepada mereka, sebagaimana telah diancamkan itu. Permintaan itu disebutkan dalam firman Allah surah ke-8 (Al Anfal) ayat 32. Maka turunlah ayat ini yang menyatakan bahwa azab yang dijanjikan itu pasti datang dan kedatangan azab itu tidak dapat ditangguhkan atau ditolak oleh siapapun. Ayat-ayat ini menerangkan bahwa orang-orang musyrik Mekah seperti An Nadar bin Haris meminta kepada Nabi Muhammad agar segera menimpakan azab yang telah dijanjikan itu kepada mereka, seandainya ancaman itu adalah ancaman yang benar-benar berasal dari Allah SWT; dan seandainya Muhammad itu benar-benar seorang Rasul yang diutus Allah.

Permintaan itu dijawab oleh ayat ini dengan menyatakan bahwa azab yang dijanjikan itu pasti menimpa orang-orang kafir baik diminta atau tidak diminta. Karena telah menjadi sunatullah bahwa azab itu pasti ditimpakan kepada setiap orang-orang kafir.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya) dia adalah Nadhr bin Haris, ia mengatakan di dalam permintaannya, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya, "Ya Allah, jika betul (Alquran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau..."
(QS. Al Anfaal [8]:32)

««•»»
— which in the case of the disbelievers none can avert: this was al-Nadr b. al-Hārith who said, ‘O God, if this be indeed the truth from You … [then rain down upon us stones from the heaven’ [Q. 8:32],

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Bukhari dan Imam Tirmizi serta lain-lainnya, semuanya mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. Ibnu Abbas r.a. menceritakan, bahwa Rasulullah saw. belum pernah membacakan Al Quran secara langsung kepada jin dan belum pernah pula beliau melihat mereka. Akan tetapi pada suatu hari Rasulullah saw. berangkat bersama serombongan sahabat-sahabat dengan tujuan pasar Ukazh.


Pada masa itu berita langit sudah ditutup rapat-rapat di muka setan; antara langit dan setan sudah terhalang oleh panah-panah berapi yang ditugaskan untuk menjaga langit. Akhirnya setan-setan (jin-jin) itu kembali kepada kaumnya. Lalu mereka berkata, "Tiada lain hal ini (penghalang langit ini) kecuali karena ada sesuatu yang telah terjadi. Maka pergilah kalian ke arah timur dan arah barat dari bumi ini, kemudian perhatikan oleh kalian apa yang menjadi penyebab adanya hal ini. Sekarang berangkatlah kalian."

Segolongan jin yang ditugaskan untuk memeriksa daerah Tihamah berangkat, lalu mereka bertemu dengan Rasulullah saw. yang pada saat itu sedang berada di lembah Nakhlah. Pada saat itu Rasulullah saw. sedang mengerjakan salat dengan para sahabat, yakni salat Subuh. Sewaktu mereka mendengar bacaan Alquran, lalu mereka mendengarkan bacaan Alquran Rasulullah dengan sungguh-sungguh. Lalu mereka berkata, "Ini, demi Allah, adalah yang menghalang-halangi kalian untuk sampai kepada berita langit."

Setelah itu mereka kembali kepada kaumnya; setelah mereka datang lalu mereka berkata, "Hai kaum kami! Sesungguhnya kami telah mendengarkan bacaan Alquran yang menakjubkan." Maka pada saat itu Allah menurunkan firman-Nya, "Katakanlah (hai Muhammad)! Telah diwahyukan kepadaku...'"
(QS. Al Jin [72]:1)

Sesungguhnya kepada Rasulullah saw. hanya diwahyukan tentang perkataan atau pembicaraan jin. Imam Ibnu Jauzi di dalam kitabnya yang berjudul Shafwatush Shafwah mengetengahkan sebuah hadis berikut sanadnya melalui Sahl bin Abdullah. Sahl bin Abdullah menceritakan,

"Pada suatu hari aku berada di salah satu kawasan tempat kaum Ad. Tiba-tiba aku melihat suatu kota yang terbuat dari batu yang dilubangi. Di dalam lubang itu yakni di tengah-tengahnya terdapat sebuah gedung yang dijadikan tempat tinggal para jin. Lalu aku memasukinya, maka tiba-tiba aku bersua dengan seorang yang sudah lanjut usianya lagi sangat besar bentuknya; ia sedang mengerjakan salat menghadap ke arah Kakbah. Orang tua atau syekh jin itu memakai jubah dari bulu yang dianyam dengan sangat indahnya. Ketakjubanku terhadap keindahan jubah yang dipakainya melebihi ketakjubanku kepada bentuk tubuhnya yang sangat besar itu. Kemudian aku mengucapkan salam kepadanya, dan ia pun menjawab salamku, lalu ia berkata, "Hai Sahl! Sesungguhnya badan atau jasad ini tidak dapat merusak atau melapukkan pakaian, akan tetapi sesungguhnya yang merusakkan pakaian itu adalah bau dosa-dosa dan makanan-makanan yang diharamkan. Dan sesungguhnya jubah yang aku pakai ini, tetap aku pakai sejak tujuh ratus tahun yang silam. Dengan memakai baju ini pula aku bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw. Lalu aku beriman kepada keduanya." Aku bertanya, "Siapakah Anda?" Ia menjawab, "Aku adalah termasuk jin-jin yang ayat ini diturunkan berkenaan dengan mereka," yaitu firman-Nya, "Katakanlah (hai Muhammad)! Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Alquran)..."
(QS. Al Jin [72]:1)
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 1][AYAT 3]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
2of44
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=70&tAyahNo=2&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#70:2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar